PEDOMAN
LATIHAN KEPEMIMPINAN
PURNA PASKIBRAKA INDONESIA
1. Pengertian
Dasar
1.1. Kader
Kader adalah
“sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi
tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar”. Hal ini dapat dijelaskan, pertama, seorang kader bergerak dan
terbentuk dalam organisasi, mengenal aturan-aturan permainan organisasi dan
tidak bermain sendiri sesuai dengan selera pribadi. Kedua, seorang kader mempunyai komitmen yang terus menerus
(permanen), tidak mengenal semangat musiman, tapi utuh dan konsisten dalam
memperjuangkan dan melaksanakan kebenaran. Ketiga,
seorang kader memiliki bobot dan kualitas sebagai tulang punggung atau kerangka
yang mampu menyangga kesatuan komunitas manusia yang lebih besar. Jadi fokus
penekanan kaderisasi adalah pada aspek kualitas. Keempat, seorang kader memiliki visi dan perhatian yang serius
dalam merespon dinamika sosial lingkungannya dan mampu melakukan “social engineering”.
Kader PPI adalah
anggota yang telah melalui proses pelatihan sehingga memilki ciri kader
sebagaimana dikemukakan di atas dan memiliki integritas kepribadian yang utuh:
bertaqwa, berilmu dan berintegritas sehingga siap mengemban tugas dan amanah
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
1.2. Pelatihan
Pelatihan adalah usaha
organisasi yang dilaksanakan secara sadar dan sistematis selaras dengan pedoman
pelatihan PPI, sehingga memungkinkan seorang anggora PPI mengaktualisasikan potensi
dirinya menjadi generasi muda Indonesia yang selalu memiliki kesadaran berbangsa
dan bernegara, idealisme, patriotisme dan harga diri serta mempunyai wawasan
yang luas untuk mengembangkan kemandirian, kepemimpinan, ilmu, keterampilan,
semangat kerja keras dan kepeloporan.
2. Rekruitmen
Kader
Sebagai konsukuensi
dari organisasi kemasyarakatan yang mebutuhkan kader-kader handal, maka aspek
kualitas kader merupakan fokus perhatian dalam proses pelatihan PPI guna
menjamin terbentuknya output yang
berkualitas sebagaimana yang diisyaratkan dalam tujuan organisasi, maka selain
kualitas proses pelatihan itu sendiri, kualitas input calon kader menjadi faktor penentu yang tidak kalah
pentingnya.
Kenyataan ini
mengharuskan adanya pola-pola perencanaan dan pola rekruitmen yang lebih
memprioritaskan kepada tersedianya input calon kader yanbg berkualitas. Dengan
demikian rekruitmen kader adalah merupakan upaya aktif dan terencana sebagai
usaha untuk mendapatkan input calon kader yang berkualitas bagi proses pelatihan
PPI dalam mencapai tujuan organisasi.
2.1. Kriteria
Rekruitmen
Rekruitmen kader yang
lebih memprioritaskan pada pengalaman kader yang berkualitas tanpa mengabaikan
aspek kuantitas, mengharuskan adanya kriteria rekruitmen. Kriteria rekruitmen
ini akan mencakup kriteria sumber-sumber kader dan kriteria kualitas calon
kader.
2.1.1. Kriteria Sumber-sumber Kader
Sesuai dengan statusnya
sebagai organisasi kemasyarakatan, maka yang menjadi sumber kader PPI adalah mantan
anggota pasukan pengibar bendera duplikat pusaka di tingkat nasional, propinsi,
dan tingkat kabupaten/kota pada tanggal 17 agustus sebagaimana disyaratkan
dalam AD/ART PPI.
2.1.2. Kriteria Kualitas Calon Kader
Kualitas calon kader
yang di prioritaskan ditentukan oleh kriteria-kriteria tertentu dengan
memperhatikan integritas pribadi dan calon kader, potensi dasar akademik,
potensi berprestasi, potensi dasar kepemimpinan serta bersedia melakukan
peningkatan kualitas individu secara terus menerus.
2.2. Metode dan Pendekatan
Rekruitmen
Metode dan pendekatan
rekruitmen merupakan cara atau pola yang ditempuh untuk melakukan pendekatan
kepada calon-calon kader agar mereka mengenal dan tertarik menjadi kader PPI.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pendekatan rekruitmen dilakukan 2 kelompok
sasaran.
2.2.1. Pra Menjadi Anggota
Paskibraka
Pendekatan ini
dimaksudkan untuk memperkenalkan sedini mungkin keberadaan PPI di tengah-tengah
masyarakat khususnya masyarakat ilmiah ditingkat siswa-siswa sekolah menengah.
Strategi pendekatan haruslah memperhatikan aspek psikologis sebagai remaja.
Tujuan pendekatan ini
adalah agar terbentuknya opini awal yang positif dikalangan siswa-siswa sekolah
menengah terhadap PPI. Untuk kemudian pada gilirannya terbentuk pula rasa
simpati dan minat untuk mengetehui PPI lebih jauh.
Pendekatan rekruitmen
yang dilakukan dengan pendekatan aktifitas (activity
approach) dimana siswa dilibatkan seluas-luasnya pada sebuah aktifitas.
Bentuk pendekatan ini bisa dilakukan lewat perangkat organisasi PPI, dapat juga
dilakukan pendekatan perorangan (personal
approach).
2.2.2. Telah Menjadi Anggota Paskibraka
Pendekatan rekruitmen
ini dimaksudkan untuk membangun persepsi yang benar dan utuh dikalangan anggota
Paskibraka terhadap keberadaan organisasi PPI sebagai mitra Dinas Pendidikan
Nasional dan Pemerintah dalam mencetak kader-kader bangsa. Strategi pendekatan
harus mampu menjawab kebutuhan nalar siswa (student
reasoning) dan minat siswa (student
interest).
Pendekatan diatas dapat
dilakukan lewat aktifitas dan pendekatan perorangan, dengan konsekuensi
pendekatan fungsionalisasi masing-masing anggota/pengurus PPI yang berhubungan
langsung dengan basis calon kader PPI. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan
cara kegiatan yang berbentuk formal seperti masa perkenalan calon anggota dan pelatihan-pelatihan siswa. Dalam kegiatan
tersebut, materi yang dapat disajikan adalah:
§ Selayang pandang tentang PPI
§ Pengantar wawasan kebangsaan
§ Pengantar wawasan kepemimpinan
Metode dan pendekatan
rekruitmen seperti tersebut diatas diharapkan akan mampu membangun rasa simpati
dan hasrat untuk mengembangkan serta mengaktualisasikan seluruh potensi dirinya
lewat pelibatan diri pada proses pelatihan PPI secara terus menerus.
3. Pembentukan Kader
Pembentukan kader
merupakan sekumpulan aktifitas pelatihan yang terintegrasi dalam upaya mencapai
tujuan PPI.
3.1. Latihan Kepemimpinan
Latihan kepemimpinan
merupakan pelatihan PPI yang dilakukan secara sadar, terencana, sistematis dan
berkesinambungan serta memiliki pedoman dan aturan yang baku secara rasional
dalam rangka mencapai tujuan PPI. Latihan ini berfungsi untuk memberikan
kemampuan tertentu kepada para pesertanya sesuai dengan tujuan dan target
masing-masing jenjang latihan. Latihan kepemimpinan merupakan media pelatihan
formal PPI yang dilaksanakan secara berjenjang serta menuntut watak dan
karakter kader PPI melalui transfer nilai, wawasan dan ketrampilan serta
pemberian rangsangan dan motivasi untuk mengaktualisasikan kemampuannya.
Latihan kepemimpinan terdiri dari tiga jenjang, yaitu:
a.
Latihan kepemimpinan mula
b.
Latihan kepemimpinan madya
c.
Latihan kepemimpinan utama
3.2. Pengembangan
Pengembangan merupakan
kelanjutan atau kelengkapan latihan dalam keseluruhan proses pelatihan PPI.
3.2.1. Up Grading
Up Grading dimaksudkan sebagai
media pelatihan PPI yang menitik beratkan pada pengembangan kemampuan pengurus
baik tingkat kota/kabupaten, propinsi maupun pusat sehubungan dengan
pengelolaan dan manajemen organisasi.
3.2.2. Pelatihan
Pelatihan adalah
pelatihan jangka pendek yang bertujuan membentuk dan mengembangkan
profesionalisme kader sesuai dengan latar belakang disiplin ilmunya
masing-masing.
3.2.3. Aktifitas
3.2.3.1. Aktifitas Organisasi
Aktifitas
organisasional merupakan suatu aktifitas yang bersifat organisasional yang
dilakukan oleh kader dalam lingkup tugas organisasi.
a. Intern organisasi, yaitu segala aktifitas organisasi yang dilakukan oleh
kader dalam lingkup tugas PPI
b. Ekstern organisasi, yaitu segala aktifitas organisasi yang dilakukan oleh
kader dalam lingkup tugas organisasi diluar PPI
3.2.3.2. Aktifitas Kelompok
Aktifitas kelompok
merupakan aktifitas yang dilakukan oleh kader dalam suatu kelompok yang tidak
memiliki hubungan dengan struktur organisasi formal tertentu.
a. Intern organisasi, yaitu segala aktifitas kelompok yang dilakukan oleh
kader PPI dalam lingkup organisasi PPI yang tidak memiliki hubungan struktur
(bersifat informal).
b. Ekstern kelompok, yaitu segala aktifitas kelompok yang dilakukan oleh kader
diluar lingkup organisasi dan tidak memilki hubungannya dengan organisasi
formal apapun.
3.2.3.3. Aktifitas Perorangan
Aktifitas perorangan
merupakan aktifitas yang dilakukan oleh kader secara perorangan.
a. Intern organisasi, yaitu segala aktifitas yang dilakukan oleh kader secara
perorangan untuk merespon tugas dan kegiatan organisasi PPI.
b. Ekstern organisasi, yaitu segala aktifitas yang dilakukan oleh kader secara
perorangan diluar tuntutan tugas dan kegiatan organisasi PPI.
3.3. Pengabdian Kader
Dalam rangka
meningkatkan upaya mewujudkan cita-cita PPI yaitu masyarakat adil makmur
berdasarkan Pancasila, maka diperlukan peningkatan kualitas dan kuantitas
pengabdian kader. Pengabdian kader ini merupakan penjabaran dari peranan PPI
sebagai organisasi kemasyarakatan yang juga mempunyai tujuan untuk memberikan
kontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara. Oleh sebab itu seluruh bentuk
pembangunan yang dilakukan merupakan jalur pengabdian kader PPI, maka jalur
pengabdiannya adalah sebagai berikut:
a.
Jalur akademis (pendidikan, pelatihan dan pengembangan);
b.
Jalur dunia profesi (dokter, konsultan, pengacara,
manager, jurnalis);
c.
Jalur birokrasi dan pemerintahan;
d.
Jalur dunia usaha (koperasi, BUMN, swasta);
e.
Jalur sosial politik;
f.
Jalur TNI/Kepolisian;
g.
Jalur sosial kemasyarakatan;
h.
Jalur LSM/LPSM;
i.
Jalur kepemudaan;
j.
Jalur olah raga dan seni budaya;
k.
Jalur-jalur lain yang masih terbuka yang dapat dimasuki
oleh kader PPI.
POLA DASAR PELATIHAN
I. Arah Pelatihan
Arah pelatihan adalah
suatu pedoman yang dijadikan petunjuk atau penuntun yang menggambarkan arah
yang harus dituju dalam keseluruhan proses pelatihanan PPI. Arah pelatihanan
sangat erat kaitannya dengan tujuan pelatihan, dan tujuan PPI sebagai tujuan
umum yang hendak dicapai PPI merupakan garis arah dan titik sentral seluruh
kegiatan dan usaha-usahan PPI. Oleh karena itu, tujuan PPI merupakan titik
sentral dan garis arah setiap kegiatan pelatihan, maka ia merupakan ukuran atau
norma dari semua kegiatan PPI.
Bagi anggota, tujuan
PPI merupakan titik pertemuan persamaan kepentingan yang paling pokok dari
seluruh anggota, sehingga tujuan organisasi adalah juga merupakan tujuan setiap
anggota organisasi. Oleh karenanya peranan anggota dalam pencapaian tujuan
organisai adalah sangat besar dan menentukan.
1. Jenis-jenis Pelatihan
1.1. Pelatihan Formal
Pelatihan formal adalah
pelatihan berjenjang yang diikuti oleh anggota, dan setiap jenjang merupakan
prasyarat untuk mengikuti jenjang selanjutnya. Pelatihan formal PPI terdiri
dari Latihan kepemimpinan mula, Latihan kepemimpinan madya dan Latihan
kepemimpinan utama
1.2. Pelatihan Informal
Pelatihan informal
adalah pelatihan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan pemahaman dan
profesionalisme kepemimpinan serta organisasi anggota. Pelatihan ini terdiri
dari Up-grading kepengurusan, Up-grading Kesekretariatan, training dan lain
sebagainya.
2. Tujuan Pelatihan Menurut Jenjang
dan Jenis
Tujuan pelatihan berjenjang
dimaksudkan sebagai rumusan sikap, pengetahuan atau kemampuan yang dimiliki
anggota PPI setelah mengikuti jenjang Latihan kepemimpinan tertentu, yakni latihan
kepemimpinan mula, madya dan utama. Sedangkan tujuan pelatihan menurut jenis
adalah rumusan sikap, pengetahuan dan kemampuan anggota PPI, baik kemampuan
intelektualitas maupun kemampuan ketrampilan setelah mengikuti pelatihan baik
berupa pelatihan formal dan informal.
2.1. Tujuan Pelatihan Formal
2.1.1. Latihan kepemimpinan mula
Terbinanya kepribadian
generasi muda yang berkualitas akademis, sadar akan fungsi dan peranannya dalam
berorganisasi serta hak dan kewajibannya sebagai kader dan penerus bangsa.
2.1.2. Latihan kepemimpinan madya
Terbinanya kader PPI
yang mempunyai kemampuan integritas, intelektual dan kemampuan mengelola
organisasi serta berjuang untuk meneruskan dan mengemban misi PPI.
2.1.3. Latihan kepemimpinan utama
Terbinanya kader
pemimpin bangsa yang mampu menterjemahkan dan mentransformasikan pemikiran
konsepsional secara profesional dalam gerak perubahan sosial.
2.2. Tujuan Pelatihan
Informal
Terbinanya kader yang
memilki keahlian dan profesionalisme dalam bidang manajerial, keinstrukturan,
keorganisasian, kepemimpinan dan kewirausahaan serta profesionalisme lainnya.
3. Target Pelatihan Penjejangan
3.1. Latihan kepemimpinan mula
a.
Memiliki kesadaran menjalankan norma dan nilai sesuai
dengan pegangan hidupnya masing-masing dalam kehidupan sehari-hari
b.
Memiliki kesadaran akan tanggung jawab kebangsaan dan
kenegaraan
c.
Memilki kesadaran berorganisasi.
3.2. Latihan kepemimpinan madya
a.
Memiliki kesadaran intelektual yang kritis, dinamis,
progresif, inovatif dalam memperjuangkan visi dan misi PPI
b.
Memiliki kemampuan manajerial dalam berorganisasi
3.3. Latihan kepemimpinan utama
a.
Memiliki kemampuan kepemimpinan yang mampu menterjemahkan
dan mentransformasikan pemikiran konsepsional dalam dinamika perubahan sosial.
b.
Memiliki kemampuan untuk mengorganisir masyarakat dan
mentransformasikan nilai-nilai perubahan untuk mencapai masyarakat adil dan
makmur berdasarkan pancasila.
II. Manajemen Traning
1.
Metode Penerapan Kurikulum
Kurikulum yang terdapat
dalam pedoman merupakan penggambaran tentang metode dari pelatihan. Oleh sebab
itu penerapan dari kurikulum adalah erat hubungannya dengan masalah yang
menyangkut metode-metode yang dipergunakan dalam pelatihan. Demikian pula
materi training memiliki keterpaduan dan kesatuan dengan metode yang ada dalam
jenjang-jenjang pelatihan. Dalam hal ini, untuk penerapan kurikulum training
ini perlu diperhatikan beberapa aspek:
1.1. Penyusunan Jadwal Materi Pelatihan. Jadwal pelatihan adalah suatu yang
menggambarkan tentang isi dan bentuk-bentuk pelatihan. Oleh sebab itu perumusan
jadwal pelatihan hendaknya menyangkut masalah-masalah:
§ Urutan Materi. Hendaknya dalam penyusunan suatu pelatihan perlu
diperhatikan urut-urutan tiap-tiap materi yang harus memiliki korelasi dan
tidak berdiri sendiri (asas integratif). Dengan demikian materi-materi yang
disajikan dalam pelatihan selalu mengenal prioritas dan berjalan secara
sistematis dan terarah, karena dengan cara seperti itu akan menolong peserta
dapat memahami materi dalam pelatihan secara menyeluruh dan terpadu.
§ Materi dan jadwal pelatihan harus selalu disesuikan dengan jenis dan
jenjang pelatihan.
1.2.
Cara Atau Bentuk
Penyampaian Materi Pelatihan. Cara penyampaian materi-materi pelatihan adalah
gabungan antara ceramah dan diskusi/dialog. Semakin tinggi tingkatan suatu pelatihan
maka semakin banyak forum-forum komunikasi ide. Suatu materi harus disampaikan
secara diskutif, artinya instruktur berusaha untuk memberikan
kesempatan-kesempatan.
1.3.
Adanya penyegaran kembali dalam pengembangan gagasan-gagasan
kreatif dikalangan peserta pelatihan. Dalam forum tersebut sedapat mungkin
instruktur menjadi pioner dalam gagasan kreatif. Meskipun gagasan-gagasan dan
problematik yang disajikan dalam forum belum sepenuhnya ada penyelesaian secara
sempurna. Untuk menghindari pemberian materi secara indoktrinatif dan
absolustik maka penyuguhan materi hendaknya di targetkan pada pemberian
alat-alat ilmu pengetahuan secara elementer. Dengan demikian pengembangan
kreasi dan gagasan lebih banyak di berikan pada peserta pelatihan.
1.4.
Usaha menimbulkan kegairahan (motivasi) antara sesama
unsur individu dalam forum pelatihan. untuk menumbuhkan kegairahan dan suasana
dinamik dalam pelatihan, maka forum semacam itu hendaknya merupakan bentuk
dinamika kelompok. Karena itu forum pelatihan harus mampu memberikan tantangan
dan menumbuhkan respon yang
sebesar-besarnya. Hal ini dapat dilaksanakan oleh instruktur dan asisten
instruktur.
1.5.
Terciptanya kondisi-kondisi yang equal (setara) antara sesama unsur individu dalam forum pelatihan, menciptakan
kondisi seimbang antara segenap unsur dalam pelatihan berati mensejajarkan dan
menyetarakan semua unsur yang ada dalam pelatihan. Problem yang akan dihadapi
adanya kenyataan-kenyataan “kemerdekaan individu” dengan mengalami corak yang
lebih demokratis. Dengan demikian pula perbedaan secara psikologis unsur-unsur
yang ada akan lebih menipis disebabkan hubungan satu dengan lainnya diwarnai
dengan hubungan kekeluargaan antara senior dan junior.
1.6.
Adanya keseimbangan dan keharmonisan antar metode pelatihan
yang dipergunakan dalam tingkat-tingkat pelatihan, keseimbangan dan keharmonisan
dalam metode pelatihan yakni adanya keselarasan tujuan PPI dan target yang akan
dicapai dalam suatu pelatihan. Meskipun antar jenjang/forum pelatihan memiliki
perbedaan-perbedaab karena tingkat kematangan peserta sendiri.
METODE PELATIHAN
Dengan memahami tentang
gambaran kurikulum dan aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan di atas, maka
metode yang tepat yakni penggabungan antara:
- Sistem ceramah
(dialog), yakni suatu metode pemahaman materi melalui tanya jawab.
- Sistem diskusi, yakni suatu metode pemahaman materi pelatihan secara diskutif
(pertukaran pikiran yang bebas dan kumulatif)
- Sistem penugasan,
yaitu metode pemahaman materi dengan mempergunakan ketrampilan peserta
dengan sasaran:
- Mempergunakan kemampuan-kemampuan tertentu;
- Penulisan-penulisan;
- Kerja lapangan;
- Bantuk trial dan
error;
- Dinamika
kelompok;
- Studi kasus;
- Stimulasi dan
lainnya.
Dalam setiap jenjang bentuk pelatihan, ketiga sistem itu tergabung menjadi
satu. Penggunaannya disesuaikan dengan kematangan peserta, jenjang atau forum pelatihan
yang ada. Dalam penerapan metode pelatihan prosentasenya berbeda-beda secara
kuantitaif, untuk itu prosentase tiap-tiap pelatihan dapat digambarkan sebagai
berikut:
a. Semakin matang peserta pelatihan, jenjang dan bentuk pelatihan, maka sistem
diskusi lebih besar prosentasenya.
b. Makin kecil kematangan peserta, jenjang dan bentuk pelatihan, maka diskusi
memiliki prosentase yang lebih kecil sebaliknya sistem ceramah dan teknik
dialog semakin besar prosentasenya.
c. Sistem penugasan dipergunakan pada setiap pelatihan hanya saja bentuk
penugasan tersebut harus diselaraskan dengan tingkat kematangan pesertanya,
jenjang dan bentuk pelatihan, dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:
§ Pelatihan yang diikuti oleh peserta yang tingkat kematangan berpikirnya
relatif lebih tinggi dan jenjang pelatihan lebih tinggi maka penugasan lebih
ditekankan secara diskritif (pembuatan paper ilmiah, paper laporan, dsb).
§ Pelatihan yang diikuti peserta yang tingkat kematangannya berpikirnya
relatif lebih rendah maka ketrampilan fisik (gerak, mimik, aktifitas, praktis),
sistem ini merupakan pendekatan metode “trial
and error”.
Pemilihan dan penentuan metode pelatihan
disesuaikan dengan jenjang dan materi-materi pelatihan yang akan disajikan.
Pendekatan yang digunakan secara filosofis, psikologis, sosiologis, historis
dan sebagainya. Gambaran tentang metode yang digunakan dalam pelatihan sesuai
menurut jenjangnya, adalah sebagai berikut:
- Latihan
kepemimpinan mula
§ Penyampaian bersifat penyadaran, penanaman dan penjelasan
§ Teknik: ceramah, tanya jawab/dialog, penugasan (resume)
§ Proses belajar mengajar (PBM/pembelajaran): penceramah menyampaikan materi
dan peserta bertanya tentang hal-hal tertentu.
b. Latihan kepemimpinan madya
§ Penyampaian bersifat analisis, pengembangan dan bersifat praksis
§ Teknik: ceramah, tanya jawab/dialog penugasan (membuat makalah tanggapan
atau makalah analisis sebuah kasus)
§ Session khusus dalam bentuk tutorial.
c. Latihan kepemimpinan utama
§ Penyajian bersifat analisis problematik dan alternatif.
§ Teknik: ceramah, dialog, penugasan membuat makalah banding (peserta membuat
alternatif pemecahan secara konsepsional).
§ Konsep belajar mengajar (PBM/pembelajaran): penceramah bersifat mengangkat
masalah, kemudian peserta membahas.
§ Session khusus dalam bentuk tutorial
§ Session khusus dalam bentuk praktek lapangan.
Evaluasi Pelatihan
2.
Tujuan
§ Mengukur tingkat keberhasilan pelatihan.
§ Sebagai umpan balik bagi seluruh unsur pelaksanaan pelatihan
3.
Sasaran
- Sikap
- Nalar
- Gerak
4.
Alat Evaluasi
- Tes Objektif
- Tes Subjektif
- Tes Sikap
- Tes Ketrampilan
5.
Prosedur Evaluasi
- Pre-Test
- Mid-Test
- Post-Test
5. Pembobotan:
- Latihan kepemimpinan mula:
Sikap :
30 %
Nalar :
30 %
Gerak : 40 %
- Latihan kepemimpinan madya:
Sikap :
40 %
Nalar : 40 %
Gerak : 20 %
- Latihan kepemimpinan utama:
Sikap :
40 %
Nalar : 50 %
Gerak : 10 %
PEDOMAN
LANJUTAN
PENDAHULUAN
Pedoman follow-up pelatihan
ini dimaksudkan sebagai acuan dalam meningkatkan kualitas diri anggota setelah
mengikuti jenjang pelatihan formal tertentu. Namun demikian pedoman ini jangan
diartikan sebagai aktifitas seorang kader. Tetapi hanya merupakan batas minimal
yang harus dilakukan seorang kader setelah mengikuti jenjang formal tertentu.
1. Fungsi:
Ø Pendalaman
Ø Pengayaan
Ø Perbaikan
Ø Peningkatan
Ø Penerapan
2. Pertimbangan:
Ø Ada unsur
subjektifitas (pengarah)
Ø Kontinuitas
3. Target
Ø Latihan
kepemimpinan mula
-
Mengembangkan wawasan dan kesadaran
-
Meningkatkan prestasi akademik
-
Menumbuhkam semangat militansi kader
-
Meningkatkan kualitas berorganisasi
Ø Latihan Kepemimpinan madya
-
Meningkatkan intelektualitas
-
Menumbuhkan semangat pembelaan
-
Menumbuhkan semangat melakukan perubahan
-
Meningkatkan kemampuan manajerial
-
Meningkatkan kemampuan mentransformasikan
gagasan dalam bentuk lisan dan tulisan
Ø Latihan Kepemimpinan utama
-
Melahirkan calon Pemimpin-Pemimpin PPI dan
bangsa
-
Melahirkan kader yang mampu mengaplikasikan
ilmu yang dimiliki
-
Melahirkan kader yang memiliki wawasan
general dan global
BENTUK
PELATIHAN LANJUTAN
1. Pasca Latihan kepemimpinan mula
a. Up
Grading/kursus-kursus, meliputi:
- Nilai kebangsaan
- Keorganisasian
- Kepengurusan
- Kesekretariatan
- Kebendaharaan
- Keprotokoleran
- Kepanitiaan
- Muatan Lokal
b. Aktifitas
- Kelompok Belajar
- Kelompok diskusi
- Keorganisasian
- Bakti sosial
2.
Pasca Latihan kepemimpinan madya
a. Up Grading/kursus-kursus
meliputi:
- Pelatihan pengelola latihan
- Pelatihan AMT
- Pelatihan Manajemen
- Pelatihan kewirausahaan
- Latihan Kepemimpinan
- Latihan Instruktur/Pemateri
- Latihan Metodologi Riset
- Latihan Advokasi dan HAM
- Pusdiklat Pimpinan
b. Aktififtas
- Kelompok Penelitian
- Kelompok Diskusi
- Pendampingan masyarakat
- Pengabdian Masyarakat secara umum
- Pembentukan kelompok untuk melaksanakan
desa binaan
3.
Pasca Latihan
kepemimpinan utama
a. Up
Grading/Kursus-Kursus, Meliputi:
·
UP Grading Ideologi, Strategi-Taktik
·
Up Grading Manajemen Organisasi
·
Up Grading Kepemimpinan
·
Pelatihan Kewirausahaan
·
Pelatihan-pelatihan Kekaryaan Lainnya
b. Aktifitas:
- Pembentukan jaringan kerja
- Perintisan jalur profesionalisme
- Pengabdian masyarakat
0 komentar:
Posting Komentar